Bosan Dengan Pandemi, Masyarakat Ciherang Pilih Hidup Normal

oleh -64 views
Warga-Desa-Ciherang
Posko Covid-19 di Balai Desa Ciherang. Foto: Brd/Radar Cirebon

PUSER BUMI – Pandemi Covid-19 yang berlangsung selama satu tahun lebih, membuat Masyarakat Ciherang, Kecamatan Kadu Gede, Kabupaten Kuningan sudah tidak peduli.

Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Ciremai ini, sudah tidak menghiraukan lagi kabar yang beredar, mereka lebih memilih hidup seperti biasa.

“Dari awal, masyarakat Ciherang tidak panik,” ujar Sekretaris Desa Ciherang, Eja Kusteja.

Masyarakat yang mayoritas perantau ini, memang pada awal mula pandemi, warga perantaunya banyak yang memilih pulang kampung.

Pihak pemerintah desa pun sudah mengantisipasi dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Waktu awal-awal kan heboh pada pulang, dari pihak desa menyarankan mereka untuk tidak berkeliaran,” kata Eja.

Baca Juga!

Seorang Nelayan Berhasil Menangkap Monster Laut, Ini Tampangnya

Aksi Heroik Pak Polisi, Gendong Jenazah Berjibaku Melewati Sungai Deras

Eja bersama pemerintah desa tidak bisa berbuat banyak ketika warganya memilih hidup seperti biasa, mereka memilih hidup tanpa ada batasan pergerakan.

“Kami hanya bisa menghimbau mereka untuk tetap mematuhi protokol kesehatan,” katanya.

Jalan yang menjadi satu-satunya akses, tidak memungkinkan pihak Pemerintah Desa Ciherang untuk melakukan pembatasan atau penutupan.

Dulu, ketika ada warganya yang terkonfirmasi positif, Pemdes Ciherang tidak bisa melakukan pembatasan dengan menutup akses jalan.

Baca Juga!

Pencuri Pakai Mobil Mewah, Incar Sepeda di Graha Galunggung

Objek Wisata Paniis Bakal Ditutup? Pihak Pengelola Dianggap Menyakiti Warga Pribumi

“Jalan disini cuma satu-satunya penghubung antar desa, tidak ada jalan alternatif lain,” kata Eja.

Dengan begitu, ketika ada warga yang terpapar, pihak pemdes melakukan penyemprotan disinspektan ke seluruh desa.

Sikap warga yang terkesan cuek ini, menjadikan aktivitas di desa Ciherang seperti biasa tanpa ada rasa was-was.

“Mayoritas yang tinggal di sini paling ke sawah atau kebun, jadi mereka hidup seperti biasa, tetapi yang mau ke luar desa, mereka pasti menggunakan masker,” papar Eja. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *