Bukan Hitam, Candi Borobudur di Awal Pembuatan Penuh Warna-Warni

oleh -58 views
Candi-Borobudur-putih-telur
Litografi Candi Borobudur yang digambarkan oleh Rappard sekitar tahun 1883- 1889. Pada saat itu terlihat Borobudur berwarna putih. Foto: Istimewa

PUSER BUMI – Kemegahan Candi Borobudur tak lepas dari sejarah panjang berkembangnya agama Buddha di Indonesia. Borobudur menjadi harta karun Indonesia yang paling berharga bahkan Dunia.

Terletak di Magelang, Jawa Tengah, menurut catatan sejarah, candi dibangun sekitar tahun 800 masehi pada masa pemerintahan dinasti Syailendra.

Pembangunan Borobudur diprediksi membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun sampai benar-benar rampung pada masa pemerintahan raja Samaratungga tahun 825.

Meski selesai dibangun, tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan siapa sosok yang membangun Candi Borobudur. Pasalnya, pada masa itu agama Hindu dan Buddha berkembang bersamaan di pulau Jawa.

Dalam proses pembangunan, masyarakat setempat banyak yang menyebut kalau pembangunan Candi Borobudur menggunakan putih telur. Tentu saja tidak.

Baca Juga!

Majalengka-Surabaya Ditempuh dalam Hitungan Menit, Benarkah Bus Hantu Itu Ada?

Nama Bukit Sanghyang Dora Berawal dari Seorang Sanghyang Pembohong

Apa yang dimaksud masyarakat setempat tidak lain adalah Vajralepa atau pelapis dinding yang berwujud plaster putih kekuningan untuk memperhalus dan memperindah sekaligus melindungi dinding dari kerusakan.

Vajralepa sendiri kadang dieja Bajralepa yang bermakna ‘lepa intan’ yaitu bahan lepa pelapis dinding candi semacam plaster putih kekuningan.

Dibuat dari campuran gamping, batu putih atau tuf dengan bahan tumbuhan seperti getah pohon. Plaster putih Vajralepa kemudian diaplikasikan pada andesit dan kemudian dicat dengan warna-warna cerah.

Jan Fontein dalam Entering the Dharmadhātu menjelaskan bahwa Borobudur pada masa lalu dilapisi oleh Vajralepa pada bagian stupa dan dinding serta lantai candi.

A.J. Bernet-Kempers dalam Ageless Borobudur lebih tegas menjelaskan bahwa Borobudur pada masa lalu ditutup dengan plaster Vajralepa berwarna putih dan kemudian diwarnai.

Pendapat Fontein dan Bernet-Kempers ini diamini oleh John Miksic dalam Mysteries of Borobudur Discover Indonesia.

Pada masa lalu, seluruh batu di Candi Borobudur dilapisi oleh plester Vajralepa yang kemudian diwarnai.

Akan tetapi karena jarak waktu lebih dari seribu tahun, vajralepa dan warna yang menutupi Borobudur akhirnya luntur.

Pada masa kini jika mengunjungi Borobudur hanya melihat sisa-sisa vajralepa yang berwarna putih-kuning pada bagian beberapa relief maupun arca dan stupa.

Candi Borobudur pada awal berdirinya memang berbeda dengan keadaan sekarang, di mana pada saat itu candi ini berwarna-warni dan tidak terkesan hitam seperti saat ini.

Masyarakat yang mengetahui warna putih-kuning yang melapisi dinding maupun relief candi akhirnya memaknai dan menarasikan ulang bahwa Candi Borobudur dibuat dengan putih telur.

Baca Juga!

Jangan Asal Sweeping Rumah Makan, Dengar Dulu Penjelasan Buya Yahya

Bosan Takjil Itu-Itu Saja, Cobain Torakor, Tomat Rasa Korma dari Brebes

Berdasarkan hal itu dapat dijelaskan bahwa yang disebut putih telur oleh masyarakat setempat tidak lain adalah vajralepa.

Candi yang dibangun kurang lebih sezaman dengan Borobudur seperti Candi Sewu (Manjushrigrha), Candi Kalasan (Tarabhavanam) dan Candi Sari diketahui juga menggunakan vajralepa untuk menutupi seluruh bagian batu candi.

Pada masa lalu candi-candi yang dilapisi oleh plaster putih vajralepa ini berwarna-warni dan jelas tampak begitu indah dan megah.

Kemegahan Borobudur sempat sirna selama berabad-abad karena terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar hingga menyerupai bukit.

Kembalinya kemasyhuran Candi Borobudur terjadi pada masa Thomas Stamford Raffles saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal di pulau Jawa pada 1811.

Penemuan kembali terjadi saat Raffles mendengar terdapat sebuah bangunan besar tersembunyi jauh di dalam hutan dekat Desa Bumisegoro.

Raffles kemudian mengutus seorang Insinyur Belanda bernama Christian Cornelius untuk memeriksanya.

Tersiarnya kabar penemuan kembali Borobudur juga menjadi malapetaka terjadinya kerusakan di banyak tempat.

Sampai pada akhir 1960-an pemerintah Indonesia meminta bantuan kepada UNESCO untuk mengatasi permasalahan di Candi Borobudur.

Dalam sejarah Candi Borobudur, renovasinya menghabiskan waktu yang lama dan biaya yang besar sampai penetapan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1991. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *