Hari Ini Arah Kiblat Berubah, Bagaimana Tanggapan Ulama

oleh -561 views
Masjid-Nabawi-kabah
Masjid Nabawi di Mekkah yang menjadi tempat Ka'bah. Foto: Asep Brd/radarcirebon.com

FENOMENA matahari di atas Ka’bah terjadi pada hari ini Kamis (15/7), fenomena tersebut mengakibatkan semua bayangan akan mengarah kepada satu arah yaitu Ka’bah. Arah kiblat pun ikut berubah.

Fenomena ini memiliki banyak sebutan, mulai Qibla Day atau hari kiblat, Istiwa’ul A’zham atau Kulminasi Agung Mekah dan hari meluruskan Kiblat Global.

Sehingga fenomena tersebut menjadi saat yang sangat tepat untuk menentukan kiblat sebagai arah umat Islam untuk melaksanakan salat yang terjadi setiap tahunnya.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN menyatakan fenomena matahari di atas Ka’bah merupakan deklinasi matahari bernilai sama dengan lintang geografis Ka’bah yang menyebabkan matahari berada tepat di atas Ka’bah saat tengah hari.

Berdasarkan informasi yang dirilis LAPAN, puncak fenomena matahari di atas Ka’bah terjadi pada pukul 09.26.42 waktu Saudi atau 16.26.42 Waktu Indonesia Barat (WIB).

“Pada momen ini, masyarakat khususnya umat Islam dapat memanfaatkannya untuk mengecek kembali arah kiblat yang tepat, yakni dengan meletakkan tongkat kayu secara vertikal di tanah” tulis LAPAN di laman resmi lapan.go.id pada Rabu (14/7).

Baca Juga!

Ajakan Stop Upload Berita Covid Bermunculan

Tertawa lalu Meninggal, Gejala Baru Penderita Covid-19

Menanggapi perubahan kiblat akibat fenomena matahari tersebut, menurut ulama asal Kuningan Ustadz Ahmad Fauzan, tidak perlu menjadi masalah besar bagi umat Islam Indonesia pada khususnya.

Menurutnya, masyarakat Indonesia banyak yang mengikuti mashab Imam Syafi’i yang pada dasarnya arah kiblat itu menghadap ke ainul kiblat atau wujudnya kiblat.

“Indonesia itu jauh dengan Ka’bah jadi cukup dengan jihatul kiblat atau arah kiblat saja, itu yang lebih bagus,” ujar ulama yang akrab disapa Jajang ini.

Dirinya beranggapan, jika ada perubahan kiblat, Indonesia tidak perlu mengubah-ubah masjid atau barisan shaf salat, karena perbedaan jarak yang cukup jauh dengan Ka’bah. Tetapi dirinya juga tidak mempermasalahkan jika ada yang mau mengikuti perubahan.

“Sekarang kalau misalkan ngikutin matahari nanti masjid robah lagi, kemarin menceng kanan nanti menceng kiri, yang penting adalah kita harus betul-betul ke arah kiblat,” kata pria yang juga pimpinan Pondok Pesantren Al-Kautsar Cilimus, Kuningan.

Lebih lanjut, Ustadz Jajang memberikan beberapa pandangan tentang kiblat yang bisa dijadikan rujukan bagi umat Islam supaya tidak salah tafsir.

“Pendapat pertama, harus menghadap kiblat secara tepat walaupun bagi orang yang berada di luar kota Makkah, berarti harus miring sedikit bagi mereka yang salat dengan shaf panjang meskipun jauh dari Makkah sekira memeiliki dugaan kuat dia telah mengarah tepat kearah ka’bah,” ujarnya.

Lalu pendapat yang kedua, sudah dianggap cukup menghadap arah kiblat (meskipun tidak secara tepat) dalam arti bagi orang yang jauh dari Ka’bah cukup menghadap salah satu dari empat arah yang Ka’bah berada di sana.

“Ini pendapat yang kuat yang dipilih oleh Al Ghozali dishahihkan oleh Imam Al Jurjani, Ibnu Kaj dan Ab ‘Ishruun, Imam Mahalli juga mantap memakai pendapat ini,” ucap Ustadz Jajang.

Di akhir obrolan, Ustadz Jajang memberikan gambaran tentang pembahasan kiblat yang tertuang dalam sejarah Imam Adzru’I.

Sebagian sahabat berkata, pendapat ini baru, tapi pendapat yang dipilih karena bentuk Ka’bah itu kecil yang mustahil seluruh penduduk dunia bisa menghadapnya (secara tepat), maka cukuplah arahnya saja karenanya dihukumi sah, orang-orang yang salat dengan shaf (barisan) yang panjang bila jauh dari Ka’bah meskipun maklum bila sebagian dari mereka keluar dari kiblat (secara tepat). Pendapat ini sesuai dengan apa yang dinukil dari Imam Abu hanifah.

Arah Timur adalah Kiblatnya penduduk Barat dan sebaliknya, arah Selatan adalah Kiblatnya penduduk Utara dan sebaliknya.

Dan pendapat Imam Malik, Ka’bah kiblatnya orang Masjid (Alharam) kiblatnya penduduk Makah, Makkah kiblatnya penduduk Tanah Haram sedang Tanah Suci Haram kiblatnya penduduk dunia (Bughyah Al Mustarsyidiin I/78).

Bagi orang yang jauh dari Makkah meskipun tidak mengarah secara tepat ke Ka’bah salatnya dihukumi sah, kecuali dekat dengan ka’bah, harus dengan yakin kita menghadap Ka’bah. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.