Jangan Asal Sweeping Rumah Makan, Dengar Dulu Penjelasan Buya Yahya

oleh -57 views
sweeping-rumah-makan-di-bulan-puasa
Buya Yahya dalam tanya jawabnya yang ditayangkan Al-Bahjah TV. Foto: Tangkapan Layar YouTube.

PUSER BUMI – Rumah makan atau restoran yang buka di siang hari di Bulan Ramadan sering menjadi dilema. Tidak jarang, ada aksi sweeping rumah makan tersebut.

Baru-baru ini, MUI dan Pemkot Kota Serang mengeluarkan imbauan tentang larangan warung makan buka selama Ramadan 2021, tetapi larangan tersebut menjadi kontroversi.

Imbauan yang dianggap melanggar hak asasi manusia itu, dijelaskan kembali oleh Sekretaris MUI Kota Serang Amas Tadjudin.

Menurut Amas, imbauan itu berisi pengaturan jam buka warung nasi dan restoran mulai pukul 4.30 WIB hingga 16.00 WIB.

Selain itu, kesepakatan tersebut hasil rakor bersama ormas, perwakilan pedagang, forum kerukunan umat beragama atau FKUB bahkan pihak hotel dan hiburan malam.

“Tidak ada dan perlu kami bantah pernyataan imbauan itu tidak ada melakukan pelanggaran HAM,” kata Amas di Kota Serang, Minggu (18/4/2021).

Baca Juga!

Bosan Takjil Itu-Itu Saja, Cobain Torakor, Tomat Rasa Korma dari Brebes

Xiaomi Meluncur dengan Logo Baru Perusahaan

Menurut Buya Yahya, tidak semua rumah makan yang buka di siang hari di Bulan Ramadan adalah haram dan melanggar.

Pria yang juga Pengasuh Lembaga Pendidikan Dakwah Al-Bahjah Cirebon ini mencontohkan, rumah makan yang berada di lintas musafirin orang musafir.

“Sebab orang musafir itu adalah orang yang boleh berbuka puasa,” ujar Buya dalam tayangan kanal Al-Bahjah TV.

Tetapi lain lagi kalau rumah makan tersebut berada di sebuah tempat yang ada hanya orang-orang sekitar saja, dan yang punya warung melayaninya.

“Kalau seperti itu, berarti yang punya warung mengajak kepada kemaksiatan,” katanya.

Tetapi, saran Buya, jangan langsung gradag-grudug melakukan aksi sweeping, tetapi diingatkan dulu, barangkali yang punya warung tidak mengerti.

Menurut Buya, amar makruf nahi mungkar itu wajib bagi setiap orang yang beriman, tetapi harus dengan ilmu.

Dia mencontohkan, kalau di sebuah pohon ada benalu, bagaimana cara membuangnya? Akan lebih mudah jika tahu ilmunya.

“Jangan-jangan pohon yang lain juga dipangkas gara-gara nggak ngerti,” tukas Buya.

Aksi sweeping rumah makan yang kadang dilakukan, saran Buya, hendaknya dilakukan tidak dengan tergesa-gesa.

“Islam itu indah menggabungkan atarakal cerdas dan hati tulus, cinta dan kemaslahatan,” pesannya.

Apalagi jika warung yang buka berada di lingkungan non muslim, dirinya berharap pendekatan secara persuasif dilakukan terlebih dahulu.

“Orang non muslim kan ngak wajib puasa,” tegasnya.

Akan lebih baik kalau yang punya warung untuk diajak bekerja sama, seperti masakannya akan diborong ketika nanti buka puasa.

“Dilarang berjualan di siang hari, tetapi masakannya akan diborong nanti pas buka, itu lebih baik lagi,” paparnya.

Oleh karena itu, menurut Buya, aksi sweeping yang dilakukan harus dengan cara-cara yang bijaksana dan tidak mencoreng nama baik umat Islam.

“Nanti yang tercoreng adalah Baginda Nabi, Ulamanya, Islam yang tercoreng karena main grebeg,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *