Royalti di Mata Musisi, Kami Sudah Merasakan Suwarga

oleh -57 views
PP-Royalti-Hak-Cipta
Dirjen Kekayaan Intelektual, Dr. Freddy Harris ACCS. Foto: Tangkapan Layar YouTube

PUSER BUMI – Presiden RI Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan Musik.

Sesaat setelah PP itu diteken, pro dan kontra pun menyeruak di masyarakat.
Mayoritas musikus setuju, akan tetapi, beberapa masyarakat ada pula yang keberatan.

Dirjen Kekayaan Intelektual, Dr. Freddy Harris ACCS, mengatakan, hal yang perlu digaris bawahi adalah nilai komersial dari pemutaran musik.

“Teman-teman wartawan yang mengetik laporan sambil mendengarkan musik lewat YouTube, ya ngak masalah karena tidak dikomersilkan,” ujar Freddy dalam Press Conference di kanal DJKI Kemenkumham.

Tetapi, menurut Freddy, tidak untuk alat pemutar musiknya, dalam hal ini YouTube tetap harus bayar royalti karena memasang iklan dan ada unsur komersial.

Lebih lanjut Freddy menerangkan, PP yang sekarang dibuat untuk mengatur aturan yang sudah ada sebelumnya supaya lebih spesipik.

“Misalnya dalam hal pembagian royalti supaya besar kecilnya bisa diatur,” tegasnya.

Selain mengatur pembagian royalti, PP tersebut untuk mengatur dengan baik tempat-tempat yang wajib bayar royalti supaya tidak bingung dalam hal kewajiban membayar.

“Sudah jelas disebutkan dalam PP, untuk kafe-kafe yang dikelola secara UMKM ada keringanan,” papar Freddy.

Baca Juga!

Lagu Asmara Sanghyang Dora, Tercipta Karena Jendela Kamar Tidak Ditutup

Keturunan Pangeran Alas Gelar Silaturahmi di Subang

Musisi yang juga pencipta lagu tarling asal Indramayu, Didi Aswandi menyambut baik dengan adanya PP Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan Musik.

Menurutnya, para musisi yang tergabung dalam Persatuan Artis Musik Melayu Dangdut Indonesia (PAMMI) sejak dulu sudah mendapatkan royalti.

Karena di dalam PAMMI ada lembaga lagi yang khusus menaungi para pencipta lagu yakni, Royalti Anugerah Indonesia (RAI) dengan ketua umumnya H Rhoma Irama.

“Setiap enam bulan sekali ada royalti kepada para pencipta lagu, bahkan di pertengahan puasa ada THR,” kata Didi.

Lembaga yang digagas oleh para penyanyi senior tersebut, keberadaanya sangat membantu para pencipta lagu tentang royalti.

“Dengan adanya PP, maka pekerjaan lembaga tadi menjadi lebih mudah,” terang Didi.

Menurut Didi, dirinya selama menjadi penyanyi dan pecipta lagu, sudah merasakan Suwarga (Surga) sekarang ini, meski bentuk Suwarga tidak pernah tahu.

Dalam pandangannya, Su itu artinya bagus dan Warga artinya masyarakat, jadi dirinya senang berbuat baik kepada orang lain, tanpa memikirkan balasan.

“Masyarakat itu batur sedulur, ketika berbuat bagus kepada tetangga, sudah pasti balasan yang bagus, itu prinsip saya,” ujarnya.

Selain itu, Didi merasa bersyukur dengan adanya lembaga yang mengurus masalah royalti, dengan begitu, maka para musisi akan merasa dihargai.

Karena royalti yang didapatnya, tidak akan pernah hilang selama lembaga yang menaungi para musisi masih berdiri dan dilindungi oleh pemerintah.

“Royalti ini bisa kita wariskan kepada anak cucu kita,” terangnya.

Didi menyarankan kepada musisi yang memiliki lagu, untuk segera bergabung dalam lembaga supaya karyanya bisa terlindungi, salah satunya PAMMI.

“Untuk mendaftar, syaratnya mereka harus memiliki album yang terdiri dari 10 lagu,” pungkasnya. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *