Pelatihan Disbudpar Berakhir, Seniman: Wisata di Cirebon Jangan Mengikuti Kota Lain

oleh -53 views
pelatihan-disbudpar-kota-cirebon
Pemateri memberikan padangannya tentang cara mengembangkan wisata di Kota Cirebon. Foto: Asep Brd/radarcirebon.com

CIREBON – Pelatihan Sumber Daya Manusia Pariwisata Tingkat Kota Cirebon Tahun 2021 yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon resmi berakhir, Kamis (28/10/2021).

Acara yang digelar selama tiga hari di Hotel Prima sejak Selasa (26/10/2021) ini, diikuti para pelaku kampung wisata dan masyarakat yang terlibat dalam pengembangan pariwisata yang ada di Kota Cirebon.

Di hari terakhir pelatihan, pihak penyelenggara mendatangkan pemateri dari pelaku seni dan budaya Dedi Setiawan.

Pria yang akrab disapa Dedi Kampleng ini dalam sambutannya memaparkan, untuk mengembagkan pariwisata di Kota Cirebon jangan mengikuti kota-kota lain yang sudah ada.

Dirinya lebih menekankan untuk pariwisata di Kota Cirebon menjadi wisata dengan jati diri sendiri.

“Kita harus mengedepankan ciri khas, Cirebon itu kaya tempat wisata yang memiliki latar belakang sejarah, ditunjang dengan kuliner lokalnya,” ujar pria dengan ciri khas rambut gondrong ini.

Baca Juga!

Keluarga Besar Pangeran Alas Resmikan Tajug dan Padepokan

Barang-Barang Pusaka dan Antik Dipamerkan di Villa Intan

KKA Sebut Aset CSI Cukup untuk Kembalikan Uang Anggota, Ada Simpanan di Luar yang Disita Kejaksaan

Dirinya memberikan contoh seperti Jalan Panjunan, pemberian nama yang mengandung arti sejarah tersebut bisa diikuti untuk tempat-tempat lain.

“Ketika wisatawan datang ke Panjunan, selain bisa menikmati perkampungan arab, bisa juga membeli kerajinan gerabah untuk oleh-oleh,” urainya.

Pelatihan yang digelar untuk meningkatkan sumber daya manusia ini, bertujuan agar pengelola bisa memperoleh ilmu dalam memperlakukan wisatawan dan mengembangkan wisata di daerahnya.

Eha Suhartini, Kasie Ekonomii Kreatif dan Perlindungan Hak Intelektual Bidang Pariwisata, Disbudpar Kota Cirebon mengatakan, untuk langkah selanjutkan pihak Disbudpar akan melakukan monitoring.

“Setelah semua materi ini, kita akan melihat perkembangan, mudah-mudahan materi yang diberikan bisa meningkatkan tempat-tempat wisata yang dikelola oleh teman-teman ini,” kata Eha.

Salah seorang peserta pelatihan menyambut baik acara pelatihan yang digelar oleh Disbudpar ini, namun dirinya kurang berkenan jika semua wilayah yang memiliki ciri khas harus dijadikan kampung wisata.

“Kalau kampung wisata saya setuju, tetapi kalau lokasi tersebut merupakan jalan dan dijadikan kampung wisata, rasanya berat untuk dilakukan,” ujar wanita berkacamata ini.

Dirinya yang hadir bersama dua temannya, tidak bisa menerapkan apa yang menjadi keinginan Disbudpar untuk dilakukan di wilayahnya.

“Kalau jalan biarlah tetap menjadi jalanan umum, kalau perkampungan kami setuju dijadikan kampung wisata,” imbuhnya.

Kurang cocoknya pemberlakuan kampung wisata di wilayahnya, dikarenakan di lokasi tersebut banyak pelaku usaha lain yang mungkin tidak setuju jika suatu ketika jalan ditutup untuk dijadikan kampung wisata.

“Kami takut terjadi gesekan antar pelaku usaha,” ujarnya cemas. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.