Sabetan Ki Manteb Terinspirasi dari Hobi Nonton Film Kung Fu

oleh -31 views
ki-manteb-pancen-oye
Dalang Ki Manteb yang memiliki ciri khas sabetan saat pagelaran. Foto: Ist

PUSER BUMI – Kabar duka datang dari dunia pewayangan. Ki Manteb Sudarsono kembali ke haribaan Ilahi pada Jumat (2/7/2021).

Dia menghembuskan napas terakhir pada usia 72 tahun, saat menjalani isolasi mandiri di rumahnya sejak terpapar Covid-19 beberapa hari sebelumnya.

Memang, tidak semua masyarakat Indonesia tahu sepak terjang almarhum selama berkarier menjadi dalang wayang kulit.

Orang mungkin lebih mengenalnya sebagai sosok ikonik yang selalu muncul di iklan salah satu obat sakit kepala. Jargonnya “Pancen Oye” cukup terkenal dan sudah akrab di telinga masyarakat.

Di balik ketenarannya itu, pemilik jargon pancen oye adalah seorang dalang legendaris yang kemampuannya diakui secara nasional dan internasional.

Baca Juga!

Bupati Muda Ini, Tidak Mau Lagi Mengurus Covid

Sumur Emas di Desa Sindanghayu, Diyakini Bisa Mengubah Nasib

Dedikasi dan kecintaannya terhadap budaya wayang kulit pun tak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan sepekan sebelum dinyatakan positif Corona, dia tetap aktif mendalang, meskipun usianya tidak muda lagi.

Sepekan sebelumnya, Ki Manteb sempat menghadiri pentas kesenian di Jakarta. Menurut anak sulungnya, ketika pulang ayahnya sempat dalam kondisi panas. Tetapi setelah istirahat sehari, dia memutuskan tetap menjalankan agenda mendalangnya.

Pada Minggu 27 Juni 2021, dia tetap tampil mendalang secara virtual dari rumah, selama hampir semalaman. Setelah itu, kondisinya drop dan sempat dirawat di rumah sebelum akhirnya tutup usia.

Darah dalang memang mengalir deras di tubuh laki-laki kelahiran 31 Agustus 1948 ini. Dia lahir dan tumbuh dari keluarga dalang. Ayahnya merupakan pedalang Ki Hardjo Brahim, sedangkan ibunya seorang penabuh gamelan.

Sejak kecil, Ki Manteb dididik dengan keras untuk menjadi dalang seperti sang ayah. Pada usia 5 tahun, dia telah mampu mendalang.

Lalu pada usia 8 tahun, Ki Manteb mendalang untuk pertama kali sebagai pembuka penampilan ayahnya pada tahun 1956, di Desa Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur,

Dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia, Ki Manteb bercerita saat itu dia mendalang selama kurang lebih 6 jam sejak pukul 09.00 WIB.

Waktu itu dia mendapat bayaran Rp5, tanpa dia minta. Jumlah itu cukup besar yang jika dihitung setara dengan kira-kira Rp5 juta pada masa sekarang.

Sejak itu dia cukup laris sebagai dalang. Kegiatan mendalangnya pun kian sibuk membuat pendidikan Ki Manteb terbengkalai.
Akhirnya, dia memutuskan berhenti sekolah dan fokus mendalami karier sebagai dalang.

Pada tahun 1972, dia belajar kepada Ki Narto Sabdo, dalang legendaris yang terkenal tahun 1970-1980an. Lalu pada 1974, Ki Manteb menimba ilmu kepada Ki Sudarman Gondodarsono yang saat itu terkenal sebagai ahli sabet.

Selama proses belajar, Ki Manteb masih berusaha keras untuk menemukan jati diri agar bisa tetap eksis dalam kariernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.