Sejarah Desa Keraton, Desa yang Gagal Jadi Keraton

oleh -142 views
situs-bale-panjang-milik-desa-keraton
Situs Bale Panjang yang ada di depan kantor Kuwu Desa Keraton. foto: brd/radar cirebon

CIREBON – Sejarah penamaan Desa Keraton, Kecamatan Suranenggala ternyata punya cerita tersendiri. Dulunya, desa ini gagal jadi keraton.

Muali, Kuwu Desa Keraton mengungkapkan, Desa Keraton merupakan hasil pemekaran di tahun 1982. Namun jauh sebelum itu, di massa lalu para pendahulu berkeinginan membentuk sebuah keraton.

Muali, Kuwu Desa Keraton, Kecamatan Suranenggala, Kab Cirebon. Foto: brd/radar cirebon

Kawasan itu sudah memiliki hamparan lahan dan berbagai macam lainnya. Sayangnya, tidak terwujud karena berbagai hal.

Cerita Sejarah Desa Keraton lainnya menyebutkan bahwa daerah itu dahulu bernama Nagari Surantaka. Nagari ini terletak di sebelah utara Giri Amparan Jati dan Muara Jati. Penguasanya ditulis dalam Kitab Purwaka Caruban Nagari.

Pada masa itu, Ki Gedeng Sedhang Kasih bertugas sebagai Syahbandar. Ia adalah saudara Prabu Anggalarang dari Galuh, ayah Prabu Siliwangi menurut Babad Galuh, Carita Waruga Guru, dan Babad Pajajaran.

Disebutkan dalam Kitab Purwaka Caruban Nagari, Nagari Surantaka berada di bawah naungan kekuasaan Galuh. Sementara, terhapusnya Nagari Surantaka tidak terungkap dalam naskah tersebut maupun sumber lain.

Namun, ditemukan bahwa tahun 1415 kekuasaan atas pelabuhan Muara Jati beralih tangan ke Nagari Singapura di sebelah selatan.

Hal ini diduga, peran Raden Pamanah Rasa, Nagari Surantaka sepeninggal Ki Gedeng Sedhang Kasih, disatukan dengan Nagari Singapura. Disebabkan Raden Pamanah Rasa adalah menantu Mangkubumi Singapura.

Baca Juga!

Penunggu Batu Babi di Tanjakan Beber Jalur Cirebon-Kuningan

Di sisi lain, yang sudah dapat dipastikan, Prabu Galuh diperkirakan menyetujui tindakan Raden Pamanah Rasa menyatukan kedua nagari tersebut, Ki Gedeng Sedhang Kasih hanya memiliki putri–saudaranya Ki Gedeng Surawijaya Sakti–penguasa Singapura, tidak memiliki keturunan untuk menggantikan kedudukannya.

Sejarah panjang desa ini, dibuktikan dari berbagai benda peninggalannya. Bahkan di ruang kerja kuwu Desa Keraton, masih tersimpan beberapa benda pusaka. Yang disebut menggambarkan sifat dari seorang pemimpin.

Diantaranya lesung, pedaringan, cermin, dan kursi serta meja yang juga Yang memiliki makna bahwa pemimpin harus memperhatikan kesejahteraan warganya. Cukup pangan.

Baca Juga!

Jin Penunggu Batu Bleneng di Tol Cipali

Hal tersebut bisa tercermin ketika ada rombongan sepeda yang berkesempatan berkunjung ke Desa Keraton dan dijamu makan siang.

Kuwu Muali tidak serta mendahului mengambil makan sebagai bentuk kata pembuka tuan rumah, tetapi dia mempersilahkan tamu dan perangkat desa serta masyrakat sekitar untuk makan duluan.

“Kalau ada jamuan makan, kuwu akan makan paling belakang, dan sifat seperti itu sudah turun temurun dijaga oleh para kuwu terdahulu,” kata Muali

Kemudian ada tempat peninggalan lainnya yang kini menjadi situs. Yakni Bale Panjang, sebuah tempat yang mirip pos ronda, yang pada zaman dulu merupakan tempat bermusyawarah.

Selain itu, ada sekitar delapan tempat lainnya yang menjadi situs dengan sejarah yang berbeda-beda. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.