Tradisi Rampokan Macan Berperan dalam Kepunahan Harimau Jawa

oleh -72 views
tradisi-rampokan-macan
Tradisi Rampokan Macan. Foto: Istimewa

PUSER BUMI – Memasuki abad ke-19, Pulau Jawa memiliki tradisi yang dikenal dengan Rampokan Macan, sebuah tradisi untuk mengusir wabah dengan macam atau harimau yang menjadi korbannya.

Tepatnya di Blitar, tahun 1880 tradisi Rampokan Macam sudah digelar. Pemerintah Hindia Belanda saat itu resah dengan keluhan masyarakat Blitar Selatan tentang serangan harimau.

Masyarakat Blitar waktu itu mengeluhkan dengan serangan Harimau Jawa yang sering memangsa ternak milik mereka.

Untuk menghilangkan rasa resah masyarakat, pemerintah membuat sayembara dengan imbalan 10-50 gulden bagi mereka yang bisa membunuh macan atau harimau.

Sayembara tersebut akhirnya dikenal dengan tradisi Rampokan Macan atau Harimau. Mirip dengan tradisi Gladiator bangsa Romawi.

Harimau yang tertangkap oleh penduduk akan ditempatkan di tengah alun-alun, menunggu eksekusi dari penduduk dengan menggunakan berbagai senjata tajam.

Baca Juga!

Muncul Aliran Sesat Baru di Cianjur, Rambut Dicat Merah, Salat Cukup Niat

Sirup Juara, Sirup Legendaris dari Kuningan, Hadir Setiap Bulan Puasa

Dalam kamus Bahasa Jawa baru, Rampok berarti menyerang dengan jumlah besar. Karena dalam Rampokan Macam ini, harimau berhadapan dengan orang banyak yang memegang tombak atau senjata lainnya.

Konon, jika harimau atau macam dalam tradisi tersebut gagal dibunuh, maka dianggap pertanda pageblug atau wabah.

Sebuah buku karangan R Kartawibawa yang berjudul ‘Rampokan Matjan’ mengupas tradisi masyarakat Blitar tersebut.

Penulis yang juga saksi tradisi tersebut menyebutkan, tradisi yang digelar rutin pada hari ke tujuh usai Lebaran atau Lebaran Kupat ini selalu dinanti-nanti warga.

Salah satu dokumen gambar menceritakan, tampak harimau dilepas dari kerangkengnya dan siap dijadikan kurban. Ada yang ditombak beramai-ramai.

Bahkan ada manusia yang berani melawan seorang diri. Prajurit yang bisa mengalahkan harimau ini selain akan mendapat hadiah juga akan naik pangkat dan jabatannya.

Dalam Bukunya R Kartawibawa menggambarkan, ribuan pria yang memegang tombak mengitari alun-alun membentuk barikade.

Dalam pertunjukan tersebut orang-orang beradu nyali memamerkan kehebatan dan keampuhan tombak atau senjata pusaka masing-masing.

Harimau itu dipaksa untuk menghadapi tajamnya tombak-tombak masyarakat. Satu harimau versus ribuan pria bersenjatakan tombak.

Supaya harimau itu keluar dari kandangnya dan berlarian menerjang barikade tombak, maka massa di alun-alun bersorak.

Harimau yang kebingungan mencoba menerjang barikade orang-orang yang memegang tombak.

Bagaikan sapu lidi, tombak-tombak tajam yang diarahkan membuat tubuh dan kepala harimau terluka dan membuat harimau berlari ke sisi barikade yang lain.

Begitu seterusnya, harimau yang kebingungan akan mati kehabisan darah atau diam di tengah menunggu ribuan tombak mengoyak badannya sampai mati.

Masih menurut R Kartawibawa dalam bukunya, tradisi membunuh Harimau Jawa atau Rampok Macan mulai dilarang tahun 1905.

Sekarang ini keberadaan Harimau Jawa mengalami kepunahan. Disamping adanya tradisi, habibat mereka juga mulai berkurang seiring berkembangannya pembangunan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.